Minggu, 21 Desember 2008

ROL News - Kepayahan Mencari Nafkah

Hallo www.nuranimu.blogspot.com, teman anda Muhammad Arief Amiruddin mengirimkan artikel berikut dari Republika Online

Kepayahan Mencari Nafkah

By Republika Contributor
Kamis, 18 Desember 2008 pukul 17:15:00

Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus dengan pahala salat, sedekah, atau haji, melainkan hanya dapat ditebus dengan kepayahan mencari nafkah -- Nabi Muhammad SAW

Jika ada sabda Rasulullah yang unik, hadis riwayat Ath Thabrani yang dikutip di atas dari Kalender Meja Muslim, terbitan Gema Insani Press, itulah di antaranya. Hadis ini menyimak perilaku manusia dengan mendetail dan sangat intens.

Cobalah tebak, apa yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari yang sangat (amat) sibuk yang kemudian ''direkam di dalam video kita'' yang harus kita pertanggungjawabkan kelak, di Hari Perhitungan? Meski kita paling kuat di antara makhluk, namun kita paling lemah dan paling bebas. Lemah (dalam iman) dan bebas (dalam menentukan hidup) itu mengalir menuju muara, yaitu ibadah.

Kita selalu merujuk kepada pahala-pahala konvensional yang menjadi andalan dalam ibadah. Tak tahunya ada pahala yang sama sekali tak terduga datangnya. Pahala itu datang justru di dalam penderitaan kita dalam menangguk rizki. Betapa unik, betapa misterius. Suatu rumusan yang begitu pasti. Betapa menyulitkan dan betapa menakutkan. Disebut menakutkan karena kesukaran itu ditujukan kepada orang-seorang, namun keluarga harus pula merasakan kesusahannya.

Ada seorang suami yang telah menetap 30 tahun di Jakarta mengadu kepada seorang kyai yang mumpuni, kenapa taraf hidupnya tak juga beranjak dari lahan yang membuatnya terseok-seok. Kyai itu memberi petuah bahwa ia harus melakukan mawas diri secara terus-menerus sepanjang tahun. Meski rajin bersalat, bersedekah, dan sudah haji -- begitu sambung pak Kyai -- seseorang tidak dengan sendirinya tuntas sudah dalam beribadah.

Penderitaan dalam mencari nafkah itu harus pula dianggap sebagai ibadah. Kita bisa cukup senang dan ikhlas -- tidak frustrasi dan menyebabkan depresi -- walau seberapa pun hasil yang kita peroleh setiap bulannya. Jika kita sudah mencapai tataran itu, insya Allah, kita bisa melihat jalan terang menuju kebahagiaan. Keluarga kita cukup memahami kemampuan kita. Kita dan keluarga kita menjadi mengerti kehendak-kehendak Allah. - ah

Kunjungi artikel ini di sini

Selasa, 25 November 2008

Krisis Moral

Assalamu'alaikum Wr Wb

Setiap hari menonton berita maka hampir setiap hari pula dapat ditemui berita pemerkosaan anak di bawah umur, anak-anak SMA atau Perguruan Tinggi tertangkap berada dalam kamar hotel, pria hidung "bela-lang" tertangkap bersama daun "tua-muda" aduh susah juga kira kira apa penyebab dari semuah ini, apakah ada yang bisa untuk menghentikan mereka?

Kenapa Anak-anak usia dini sudah tau jauh tentang sex, sehingga mereka mencoba-coba, dari mana anak tau makanan snack kecil yang terjual dipasaran dengan merk yang beraneka ragam sehingga mereka mencari-cari, dari mana?

kenapa pada masa Orang Tua dulu kasus pencabulan sangat sedikit, kalaupun ada tidak dilakukan oleh anak ABG-ABG zaman Para pahlawan, seharusnya kita segera bertindak, bentuk sebuah gerakan kepedulian anak bangsa, yang tidak hanya memikirkan sekolah mereka tapi juga ahlak mereka, yang menbentuk mereka, keluarga hanya 10-30% dapat menjaga anak yang sisanya mereka dapatkan dari media, teman bermain, guru dan lingkungannya tinggal.

nah langkah jitu lain apa yang dapat kita gunakan